Rabu, 24 Juli 2019

Pengaruh Perilaku Menyimpang Remaja


Remaja adalah sosok manusia yang belum matang. Hal ini dikarenakan remaja berada pada fase perkembangan antara anak-anak dan dewasa. Karena keberadaannya itulah maka remaja dikatakan sebagai tahapan usia yang belum matang. Remaja juga disebut sebagai usia pencarian identitas atau jati diri. Dalam proses pencarian jati diri (aku), remaja selalu mencoba dan mencoba apa yang cocok pada dirinya. Disamping itu, remaja juga mencari bentuk dirinya kelak dikemudian hari.

Selama proses ini remaja selalu berinteraksi dengan lingkungannya, baik lingkungan dalam bentuk jasmani ataupun rohani. Keberadaan lingkungan demikian dekatnya dengan remaja sehingga apa yang terdapat dalam lingkungan akan dengan mudah diindera. Akibat dari keadaan ini maka dalam jangka panjang remaja akan terbentuk sesuai dengan lingkungan yang membentuknya.


Dalam kenyataan, lingkungan ada yang baik dan ada yang buruk. Lingkungan yang baik akan membentuk remaja menjadi baik dan lingkungan yang buruk akan membentuk remaja menjadi buruk pula. Peran lingkungan memang demikian besar dalam proses pembentukan remaja, disamping faktor hereditas.

Pergaulan remaja sekarang ini berbeda dengan remaja zaman dulu, misalnya dalam hal jatuh cinta. Perasaan jatuh cinta itu wajar dirasakan kaum remaja sekarang ini dan mereka mulai berani menjalin hubungan misalnya pacaran, berbeda dengan masa orang tua kita dulu yang masih malu-malu. Bahkan remaja sekarang ini menjadikan pacaran sebagai trend. Jadi jika ada remaja yang semisal sudah SMA tapi belum pernah pacaran dianggap tidak gaul. Namun cara berpacaran mereka sekarang banyak yang tidak sehat. Mereka melakukan apapun dan mengatas namakan itu sebagai sebuah komitmen yang menunjukkan keseriusan mereka, sampai-sampai meskipun pacar kita melakukan kekerasan kepada kita seperti memukul, menampar, memaksa berhubungan seksual, bahkan meminjam uang tanpa pernah mengembalikan kita pasrah saja. Melihat keadaan tersebut kami mencoba mengadakan penelitian tentang kehidupan para remaja sekarang kaitannya dalam pacaran.

Banyak kegelisahan yang dirasakan masyarakat akibat kekerasan dalam pacaran yang dialami remaja. Mereka yang putus cinta melakukan hal-hal negative seperti mengurung diri, mogok makan, sampai-sampai bunuh diri atau juga melakukan balas dendam terhadap pasangannya yang dapat merugikan orang lain.
Bicara soal kekerasan dalam pacaran (KDP) yang terbayang di kepala kita adalah perlakuan semena-mena secara fisik pada pacar. Seperti, pukulan atau paksaan melakukan hubungan seksual.

Menurut Making Waves, sebuah organisasi yang menangani KDP remaja di Amerika, KDP terjadi ketika kita berpacaran dengan seseorang yang menggunakan penyiksaan fisik, seksual, dan emosional untuk mengutarakan perasaannya. Berbeda dengan penyiksaan fisik dan seksual, siksaan emosional tidak meninggalkan luka yang jelas dan sulit dijelaskan, tapi efeknya bisa lebih parah daripada luka fisik.

Psikolog Pamela Brewer MSW PhD mengatakan, kekerasan emosional adalah keadaan emosi yang sengaja dibuat oleh seseorang untuk mengendalikan pasangannya. Contoh: mengejek, curiga berlebihan, selalu menyalahkan pacar, mengekang dan lain sebagainya.

The Alabama Coalition Against Domestic Violence (organisasi kekerasan dalam pacaran di Amerika) mengutarakan ada beberapa kepercayaan yang membuat KDP terjadi. Pria percaya bahwa mereka berhak mengontrol pacarnya, mereka harus berani melakukan kekerasan fisik supaya terlihat jantan. Pria bisa kelihatan lembek kalau terlalu perhatian ke pacarnya. Sementara perempuan yakin kecemburuan pacarnya itu tanda romantis dan perempuanlah yang bertanggung jawab menyelesaikan masalah dalam pacaran. Menganggap pasangan sebagai barang yang bebas diperlakukan semena-mena juga menjadi pemicu. Akarnya rasa posesif itu sendiri kemudian termanifestasi dalam kekerasan.

Dampak kekerasan emosional, walau tidak terlihat jelas, sebenarnya sama menyakitkan (bahkan mungkin lebih parah) dibandingkan dengan kekerasan fisik. Apalagi kalau korbannya punya rasa percaya diri yang rendah. Si korban yang sering diejek akan merasa segala hinaan buat dirinya benar. Akibatnya, dia jadi minder, merasa tidak berharga, dan suka menyendiri. Akibat lain yang lebih parah, kita terus-terusan terjebak dalam hubungan tak sehat. Contoh, gara-gara terbiasa punya pacar posesif, kita menganggap tipe pacar seperti ini itu normal. Ini karena remaja itu masih punya konsep cinta yang immature, jadi perlu banyak belajar.
Akibat dari tindakan kekerasan tersebut, maka akan berdampak pada psikologi korban atau rasa trauma yang berlebihan, misalnya timbul perasaan minder, perasaan yang selalu tertekan, dan munculnya keinginan untuk bunuh diri dan balas dendam terhadap pelaku kekerasan.
Jadi menurut saya lebih baik kita mewujudkan cita-cita dan membahagiakan orang tua dulu karena kalo memang jodoh sejauh apapun di pisahkan pasti nanti akan di pertemukan kembali.
Refrensi:
·         Liputan6.com
·         Detik.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar